Sengsara Membawa Nikmat

Saya bersyukur dengan kehidupan yang saya jalani saat ini, bukan karena kemapanan atau kebahagiaan yang saya rasakan, namun lebih dari itu, adalah pemeliharaan Tuhan dalam sepanjang perjalanan hidup saya.

Dimulai sejak saya masih kecil, saya dan keluarga hidup berkecukupan dari seorang ayah yang selalu menjadi tulang punggung keluarga kami. Namun perubahan hidup akhirnya saya rasakan ketika menginjak remaja, saat dimana ayah saya harus meninggalkan kami (ibu, saya dan adik-adik saya) untuk selamanya, yaitu dipanggil untuk berpulang kerumah Bapa yang di Surga. Semenjak ayah berpulang tersebut, roda kehidupan kami yang awalnya berkecukupan, sekarang mulai terasa berat, ibu lah yang harus menggantikan peran ayah. Padahal ibu saya selama ini hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa, yang tugas kesehariannya adalah mengurus anak-anaknya dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga tanpa memiliki sebuah pengalaman kerja. Alhasil, sejak ayah saya meninggal dan ibu yang belum mempunyai pengalaman kerja, kami sebagai anak hanya bisa hidup serba pas-pasan.

Sempat terbesit dalam benak saya, mengapa Tuhan begitu kejam?

Mengapa Tuhan harus mengambil ayah yang selama ini menjadi penopang hidup kami?

Apakah Tuhan akan membiarkan kami yang masih kecil ini harus menanggung beban yang berat ini?

Apa maksudnya ini, Tuhan?

Itulah jeritan hati saya pada waktu kecil atas keadaan yang menimpa keluarga kami. Rupanya lewat kehidupan yang menurut saya agak nelangsa(mengenaskan) ini Tuhan sedang membentuk rencana yang indah, yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Yah, campur tangan Tuhanlah yang membuat saya menjalani hidup ini bak seperti sebuah judul sinetron “Sengsara Membawa Nikmat”.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, tak terasa jika sudah puluhan tahun yang lalu saya berjuang melewati itu semua. Dan sekarang, melalui perenungan ini, saya kembali disadarkan, jika dulu saya tidak mengalami yg namanya kesengsaraan hidup dan harus berjuang sedemikian rupa agar dapat bertahan, mungkin saat ini pun belum tentu saya bisa menikmati indahnya hidup dan rencana yang Tuhan telah rancangkan bagi saya.

Karena dengan peristiwa meninggalnya ayah saya, akhirnya saya sekeluarga harus pindah keluar dari kota yang kami tinggali, dan di kota baru inilah saya menemukan banyak hal yang menjadi pembelajaran hidup bagi saya, segudang pengalaman baru yang memampukan saya bisa hidup mandiri, sehingga dapat mengembangkan karir dengan penyertaan dari Tuhan. Pertumbuhan iman yang mendewasakan kerohanian saya dan bahkan sampai jodoh pun Tuhan rancangkan yang terbaik untuk saya, sehingga saya bisa memiliki keluarga yang harmonis dengan suami yang sangat mengasihi Tuhan dan keluarganya sampai saat ini.

Mungkin inilah jawaban Tuhan atas jeritan hati saya dahulu.
Tuhan tak pernah tinggal diam atau membiarkan kita “jatuh tergeletak” ketika DIA melihat tetesan air mata anak yang dikasihiNya. Kita, sebagai manusia hanya bisa berencana, namun biarlah kehendak Tuhanlah yang terjadi dalam hidup kita, karena Tuhan tau apa yang terbaik untuk kita!
Pergumulan, masalah dan kekuatiran apapun yang anda pikirkan, serahkanlah kepada Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Pengasih!
-Praise the Lord-

Sumber: www.lenterahidup.com

DOA Memulai Hubungan Pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus:
Saya percaya bahwa Darah Yesus Kristus yang telah dicurahkan adalah untuk penebusan atas segala hutang dosa saya.
Saya percaya hanya melalui Tuhan Yesus saya beroleh pengampunan yang kekal.
Dan mulai saat ini juga, saya menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat hidup saya pribadi.
Saya mengundang ROH KUDUS tinggal didalam hati saya untuk menuntun saya dalam setiap langkah dan pengenalan saya akan Egkau.
Saya berdoa Hanya di Dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, AMIN.

Leave a Comment