PENGALAMAN MUJIZAT BINTANG SEPAKBOLA

Pada usiaku yang ke tujuhbelas, Mark Reuben mengikuti kejuaraan sepakbola tingkat nasional. Dalam pertandingan itu, aku mencetak banyak gol dan tentunya kami memenangkan pertandingannya. Semua orang mengelu-elukkanku, hingga terpikir kalau saat itu aku seperti seorang bintang. Aku mencintai olahraga ini dan sepakbola adalah segalanya dalam hidupku. Sebenarnya, banyak hal yang dapat kukerjakan tetapi aku lebih sering menghabiskan waktu untuk bermain bola, karenanya aku mendedikasikan seluruh hidupku untuk bermain sepak bola.

Bila sedang sendirian, aku sering mengingat bagaimana aku dipuji oleh para penggemar bola, sehingga membuatku menjadi sombong. Aku merasa tidak ada yang hebat selain diriku. Juga, tak pernah ada pertandingan yang kulewatkan. Karena kesibukanku berlatih,biasanya setiap ada waktu luang kugunakan untuk latihan, seringkali aku tidak mengikuti pertemuan keluarga. Acara keluarga sepertinya terabaikan olehku.

Biasanya, setiap ada acara doa, seluruh keluarga mengikuti acara tersebut. Hingga suatu hari, ibuku memaksaku ikut untuk menghadiri sebuah acara doa. Waktu itu pembicaranya cukup terkenal, tetapi aku menolaknya karena ada pertandingan. Namun, ibu terus memaksaku, ia bahkan menjanjikan sebuah hadiah bila aku turut serta dalam acara tersebut. Aku sama sekali tidak tertarik dengan tawaran hadiah itu. Aku lebih memilih kumpul dengan teman-temanku di lapangan sepakbola.

Kejadian aneh menimpaku waktu itu. Ketika aku berangkat dari rumah untuk mengikuti pertandingan tersebut, aku merasa sehat-sehat saja, namun setelah tiba ditempat pertandingan, badanku mendadak panas. Aku demam. Akhirnya, pelatih melarangku untuk bertanding saat itu dan aku pun tak dapat berbuat apa-apa lagi., rasanya seluruh tubuhku lemas sekali seperti tidak bertenaga.

Sejak hari itu,semuanya berubah, tak ada lagi pertandingan yang dapat kuikuti. Sepakbola hanyalah tinggal kenangan. Dahulu perjalananku, dari satu lapangan ke lapangan lain, berusaha untuk memenangkan setiap pertandingan. Kini, perjalananku berubah, dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya untuk dapat menyembuhkan penyakitku, karena dari hasil penelitian laboratorium, ternyata aku terserang TBC tulang. Operasi hampir menjadi bagian hidupku saat itu. Dari tangan dokter yang satu berpindah ke tangan dokter lainnya. Hampir tiga meja operasi kujalani, namun tak satupun yang menunjukkan adanya tanda-tanda kesembuhan. Dan, hampir setiap hari, keluargaku berkumpul dikamar untuk mendoakanku.

Pikiranku yang sehat sangat tersiksa melihat tubuhku yang sakit. Hampir tak dapat bergerak. Setiap bergerak rasanya ngilu sekali. Aku tak tahan lagi. Rasanya bibirku kelu dan sukar sekali untuk bicara. Tak tahu apalagi yang harus kukatakan. Air mataku mulai mengalir dan ketakutan melanda pikiranku. Kedua tanganku mulai terangkat seperti ingin menerima sesuatu dari atas. Di saat aku berdoa,”Tuhan Yesus dokter-dokter yang saya percaya dapat menyembuhkan telah mengangkat tangan. Kalau Engkau mengangkat tangan sama seperti dokter-dokter itu, aku pasti mati……” malam itu aku menangis hingga tertidur.

Waktu itu sekitar pukul tiga siang, keluargaku berkumpul untuk mendoakanku. Tiba-tiba kami melihat sebuah cahaya yang sangat terang sekali, dan perlahan mendekatiku seperti hendak menabrakku. Saat itu, aku merasakan mujizat yang luar biasa, seketika itu juga, aku dapat menggerakkanku tubuhku tanpa sakit sedikitpun, ada rasa ringan di bagian punggungku, aku mulai berdiri perlahan dan berjalan. Ajaib, sungguh ajaib sekali, rasa sakit itu hilang. Ternyata, Tuhan telah mendengarkan doa kami. Ia penyembuhku.

Setelah kejadian itu, aku melanjutkan hidupku dan meninggalkan kehidupanku yang lama, serta berusaha untuk menyelesaikan kuliahku. Tuhan pun mempertemukanku dengan seorang wanita yang mengasihiku dan kami memutuskan untuk menikah. Kini, bersama dengan istriku, kami melayani anak-anak jalanan. Setiap sore mereka berkumpul di tempatku untuk belajar dan bermain bersama. Kami mencoba untuk menyediakan makanan yang sehat bagi mereka setiap sore. Sampai hari ini, itulah salah satu pelayanan rutin yang kami lakukan. Sebagai rasa syukur kepada Tuhan, bagaimanapun manusia menyerah karena keadaan dan kondisi yang buruk, tetapi Tuhan selalu membukakan jalan keluar bagi siapapun yang berseru padaNya.

Sumber Kesaksian: jawaban.com

Leave a Comment