Berseluncur Dan Berdoa

Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. —Lukas 6:12

Ketika salju turun di Michigan, Amerika Serikat, saya suka mengajak cucu-cucu saya berseluncur di halaman belakang rumah dengan seluncuran plastik. Kami berseluncur menuruni bukit sekitar 10 detik, naik kembali ke atas bukit, lalu berseluncur ke bawah lagi, hingga berulang-ulang.

Ketika saya pergi ke Alaska bersama sekelompok remaja, kami juga biasa akan berseluncur. Kami diangkut bus sampai hampir tiba di puncak sebuah gunung. Kami melompat ke atas papan seluncur, dan selama 10 sampai 20 menit kemudian (tergantung pada tingkat keberanian masing-masing orang), kami berseluncur menuruni gunung itu dengan kecepatan sangat tinggi, seakan-akan kami sedang mempertaruhkan nyawa.

Sepuluh detik di halaman belakang rumah saya versus 10 menit menuruni gunung di Alaska. Keduanya sama-sama disebut berseluncur, tetapi jelas jauh sekali bedanya.

Saya sedang memikirkan tentang hal itu dalam kaitannya dengan doa. Terkadang kita berdoa bagaikan “berseluncur 10 detik di halaman belakang rumah”—doa-doa yang singkat, spontan, atau sebuah ucapan syukur yang pendek sebelum makan. Di saat-saat yang lain, kita didorong untuk berdoa seperti “berseluncur menuruni gunung”—doa-doa panjang yang membutuhkan konsentrasi dan kesungguhan yang mengobarkan hubungan kita dengan Allah. Kedua doa itu memiliki tempatnya masing-masing dan sama-sama penting bagi kehidupan kita.

Yesus sering berdoa dan terkadang Dia berdoa dengan waktu yang lama (Luk. 6:12; Mrk. 14:32-42). Bagaimanapun bentuknya, marilah kita mengungkapkan kerinduan hati kita kepada Allah, baik dalam doa yang singkat maupun doa yang panjang.

Tuhan, tolong tantang kami untuk senantiasa berdoa—singkat ataupun panjang doa itu. Saat kami menjalani naik-turunnya kehidupan kami, kiranya kami senantiasa mencurahkan isi hati dan pikiran kami kepada-Mu dengan tidak bosan-bosannya.
Yang terpenting dari doa adalah doa itu keluar dari hati.
 
 
 
 
 
 
 

DOA Memulai Hubungan Pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus:
Saya percaya bahwa Darah Yesus Kristus yang telah dicurahkan adalah untuk penebusan atas segala hutang dosa saya.
Saya percaya hanya melalui Tuhan Yesus saya beroleh pengampunan yang kekal.
Dan mulai saat ini juga, saya menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat hidup saya pribadi.
Saya mengundang ROH KUDUS tinggal didalam hati saya untuk menuntun saya dalam setiap langkah dan pengenalan saya akan Engkau.
Saya berdoa Hanya di Dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, AMIN.

Sumber:
http://www.santapanrohani.org

Leave a Comment

Follow by Email
LinkedIn
Share
WhatsaApp
×