Pemberian dan Sang Pemberi

Oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, . . . Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi. —Lukas 1:78

Itu hanya sebuah gantungan kunci. Lima buah kotak kecil yang dijalin satu dengan tali sepatu. Gantungan itu diberikan putri saya beberapa tahun lalu ketika ia masih berusia tujuh tahun. Sekarang talinya sudah koyak dan kotak-kotaknya sudah terkelupas, tetapi kata-kata yang tertera di situ tidak pernah usang: “I ♥ DAD” (Aku Sayang Ayah).

Pemberian yang paling bernilai tidaklah ditentukan dari apa yang menjadi isinya, tetapi dari siapa yang memberikannya. Coba tanyakan orangtua mana pun yang pernah menerima rangkaian bunga liar dari tangan mungil anaknya. Pemberian terbaik dinilai bukan dari harganya tetapi dari kasih sayang yang mendasarinya.

Zakharia memahami hal itu. Kita membacanya dalam nyanyian kenabian yang dilantunkannya ketika memuji Allah yang telah memberinya dan istrinya, Elisabet, seorang anak laki-laki bernama Yohanes pada saat usia tidak lagi memungkinkan mereka untuk memiliki anak (Luk. 1:67-79). Zakharia bersukacita karena Yohanes akan menjadi seorang nabi yang mewartakan pemberian terbesar Allah bagi seluruh umat manusia, yakni Juruselamat yang akan datang: “Oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, . . . Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi” (Luk. 1:78). Kata-kata itu menunjuk pada satu pemberian istimewa yang telah dianugerahkan dengan penuh kasih—suatu anugerah yang akan “menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut” (Luk. 1:79)

Pemberian terindah yang dapat kita terima adalah belas kasihan Allah, yakni pengampunan dosa kita oleh Yesus. Pemberian itu menuntut nyawa-Nya di kayu salib, tetapi Dia memberikannya secara cuma-cuma karena kasih-Nya yang besar kepada kita.

Yesus, terima kasih untuk pengampunan dan kehidupan baru yang kami terima melalui Engkau. Aku menerima pemberian-Mu itu dengan sukacita.
Yesus adalah Sang Pemberi sekaligus pemberian itu sendiri.
 
 
 
 

DOA Memulai Hubungan Pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus:
Saya percaya bahwa Darah Yesus Kristus yang telah dicurahkan adalah untuk penebusan atas segala hutang dosa saya.
Saya percaya hanya melalui Tuhan Yesus saya beroleh pengampunan yang kekal.
Dan mulai saat ini juga, saya menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat hidup saya pribadi.
Saya mengundang ROH KUDUS tinggal didalam hati saya untuk menuntun saya dalam setiap langkah dan pengenalan saya akan Engkau.
Saya berdoa Hanya di Dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, AMIN.

Sumber:
http://www.santapanrohani.org

Leave a Comment

Follow by Email
LinkedIn
Share
WhatsApp
×