Kehendak Siapa?

‘’Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.’’ —Matius 26:39

Kiranya segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendakmu.” Itulah salam yang sering diucapkan selama perayaan Tahun Baru Tionghoa. Seindah-indahnya ucapan itu, peristiwa-peristiwa yang terbaik justru terjadi saat segalanya sesuai dengan kehendak Allah dan bukan menurut kehendak saya sendiri.

Seandainya bisa memilih, Yusuf tentu tidak ingin menjadi budak di Mesir (Kej. 39:1). Akan tetapi, meski diperbudak, ia “berhasil” karena “Tuhan menyertai [dirinya]” (ay.2). Tuhan bahkan memberkati rumah tuannya “karena Yusuf” (ay.5).

Yusuf tentu tidak akan memilih untuk dipenjara di Mesir. Namun hal itu terjadi ketika dengan semena-mena, ia dituduh berbuat kejahatan seksual. Akan tetapi, untuk kedua kalinya kita membaca: “Tuhan menyertai Yusuf” (ay.21). Di dalam penjara, ia memperoleh kepercayaan dari kepala penjara (ay.22) sehingga “apa yang dikerjakannya dibuat Tuhan berhasil” (ay.23). Pengalaman Yusuf mendekam di penjara ternyata menjadi awal dari proses hidupnya yang menanjak hingga menduduki posisi penting di Mesir. Tidak banyak orang yang rela ditinggikan dengan cara yang digunakan Allah untuk meninggikan Yusuf. Namun Allah sanggup memberkati Yusuf, sekalipun ada, dan bahkan melalui keadaan-keadaan yang tidak mengenakkan.

Allah memiliki maksud atas keberadaan Yusuf di Mesir, dan Dia memiliki maksud atas kita di mana pun kita ditempatkan-Nya sekarang. Alih-alih berharap segala sesuatu terjadi menurut kehendak kita, kita bisa mengatakan, sebagaimana diucapkan Juruselamat kita sebelum Dia melangkah ke kayu salib, “Janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat. 26:39).

Ya Tuhan, aku cenderung mengejar hasratku sendiri. Ampuni keegoisanku dalam mengejar aktivitas yang berpusat pada diriku sendiri. Tolong aku untuk mengutamakan-Mu dan untuk mengenali karya-Mu dan kehendak-Mu yang patut kulakukan dalam hidupku.
Sering kali, menunggu dengan sabar merupakan cara terbaik untuk melakukan kehendak Allah.
 
 
 
 

DOA Memulai Hubungan Pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus:
Saya percaya bahwa Darah Yesus Kristus yang telah dicurahkan adalah untuk penebusan atas segala hutang dosa saya.
Saya percaya hanya melalui Tuhan Yesus saya beroleh pengampunan yang kekal.
Dan mulai saat ini juga, saya menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat hidup saya pribadi.
Saya mengundang ROH KUDUS tinggal didalam hati saya untuk menuntun saya dalam setiap langkah dan pengenalan saya akan Engkau.
Saya berdoa Hanya di Dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, AMIN.

Sumber:
http://www.santapanrohani.org

Leave a Comment

Follow by Email
LinkedIn
Share
WhatsaApp
×